Ketika Guru Mulai Hilang Jiwa Pendidik
Oleh: Edi Syahputra H.
Guru adalah jantung pendidikan. Dari ruang kelas yang sederhana hingga sekolah modern, denyut pendidikan bergantung pada kehadiran guru yang mengajar dengan ilmu dan mendidik dengan hati. Namun, di tengah tekanan administrasi, tuntutan kurikulum, dan dinamika sosial yang terus berubah, muncul satu fenomena yang patut direnungkan bersama: guru yang perlahan kehilangan jiwa pendidiknya.
Kehilangan jiwa pendidik bukan berarti kehilangan profesi, melainkan memudarnya makna mendidik itu sendiri. Guru tetap hadir di kelas, menyampaikan materi, dan menilai tugas, tetapi ruh keteladanan, empati, dan kepedulian mulai menjauh. Mengajar berubah menjadi rutinitas, bukan lagi panggilan jiwa.
Salah satu ciri paling nyata adalah ketika pembelajaran dijalankan sekadar menggugurkan kewajiban. Kelas berjalan satu arah, tanpa upaya memahami kebutuhan belajar siswa. Ketika siswa tidak paham, yang muncul bukan refleksi metode, melainkan keluhan tentang rendahnya kemampuan peserta didik. Padahal, pendidikan sejatinya adalah proses dua arah yang menuntut kesabaran dan kreativitas.
Gejala lain tampak pada menurunnya empati. Guru mudah tersulut emosi, cepat menghakimi, dan lebih sering menghukum daripada membimbing. Kesalahan siswa dilihat sebagai gangguan, bukan peluang mendidik. Padahal, setiap kekeliruan adalah ruang pembelajaran karakter yang berharga.
Tidak kalah mengkhawatirkan adalah sikap menolak perubahan. Ketika guru enggan belajar, menutup diri dari inovasi, dan merasa cukup dengan cara lama, pendidikan kehilangan daya hidupnya. Dunia berubah, generasi berganti, tetapi metode mengajar tetap beku. Akibatnya, sekolah tertinggal dari realitas zaman.
Kehilangan jiwa pendidik juga tampak ketika keteladanan memudar. Guru menuntut disiplin, tetapi sering abai terhadap waktu. Mengajarkan kejujuran, namun memberi contoh sebaliknya. Dalam pendidikan, keteladanan jauh lebih kuat daripada seribu nasihat.
Namun, penting untuk ditegaskan bahwa fenomena ini tidak boleh dilihat sebagai kesalahan individu semata. Sistem pendidikan yang menumpuk beban administrasi, minim dukungan emosional, dan kurang memberi ruang refleksi turut berkontribusi. Guru adalah manusia yang juga bisa lelah, jenuh, dan kehilangan arah.
Karena itu, solusi tidak cukup dengan kritik, tetapi membutuhkan kesadaran kolektif. Guru perlu kembali bertanya pada diri sendiri: mengapa saya memilih jalan ini? Sekolah perlu menghadirkan budaya saling menguatkan, bukan saling menyalahkan. Pemerintah dan pemangku kebijakan harus memastikan bahwa guru diberi ruang untuk bertumbuh, bukan sekadar dituntut.
Jiwa pendidik sejatinya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertutup oleh kelelahan dan rutinitas. Dengan refleksi, dukungan, dan niat yang diperbarui, jiwa itu dapat kembali menyala—membimbing generasi masa depan bukan hanya menjadi pintar, tetapi juga berkarakter dan beradab.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Hari Guru Nasional: Sebuah Refleksi Tahunan yang Belum Selesai
Oleh: Edi Syahputra H, S.Pd Setiap tahun, tanggal 25 November menjadi momentum bangsa ini merayakan Hari Guru Nasional. Namun bagi guru, perayaan itu sering hanya menja
Anggota Pramuka Penegak Gudep SMAN 13 Banda Aceh Laksanakan Pembersihan Pantai Gampong Jawa
Banda Aceh — Sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan pesisir, Anggota Pramuka Gugus Depan (Gudep) SMA Negeri 13 Banda Aceh melaksanakan kegiatan bakti so
Kunjungan Bapak Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh ke SMAN 13 Banda Aceh
Banda Aceh, 06 November 2025 – SMAN 13 Banda Aceh menerima kunjungan kerja Plt. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.SP, pada Kamis (06/11). Kehadiran be
Tes Kemampuan Akademik: Untuk Masa Depan Bangsa yang Cemerlang
Oleh: Edi Syahputra H, SPd – Guru SMAN 13 Banda Aceh Pendidikan merupakan fondasi utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Kualitas sumber daya manusia yang unggul tidak lahir
Sanggar Pocut Meurah Intan SMA Negeri 13 Banda Aceh Gelar Latihan Tari Ranup dan Peumulia Jamee
Banda Aceh – Ekstrakurikuler Seni Tari SMA Negeri 13 Banda Aceh kembali menggelar latihan rutin pada Rabu, 29 Oktober 2025, di aula sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh selu
Anggota Pramuka Penegak SMAN 13 Banda Aceh Latihan Semaphore Bersama
Banda Aceh, 31 Oktober 2025 – Anggota Pramuka Penegak Gugus Depan (Gudep) Pangkalan SMA Negerip 13 Banda Aceh melaksanakan latihan semaphore bersama di halaman sekolah. Ke
Menjelang Hari Guru, Guru Belum Sejahtera
Oleh: Edi Syahputra H, SPd Setiap tahun, tanggal 25 November menjadi momentum perenungan nasional. Hari Guru diperingati dengan meriah: upacara, pidato, hingga penghargaa
Nasehat Guru yang Dulu Diremehkan, Kini Jadi Kompas Hidup
Oleh: Edi Syahputra H SPd Dulu, saat duduk di bangku sekolah, banyak dari kita yang menganggap nasihat guru hanya sebagai pengisi waktu di antara pelajaran. Kalimat seper
Sebelum Bel Berbunyi, Guru Sudah Membunyikan Doanya
Oleh: Edi Syahputra H SPd Sebelum dering bel sekolah memecah pagi, ada sosok yang lebih dulu membangunkan semesta kecil bernama ruang kelas. Dialah guru - yang dalam diam
Mutu Pendidikan Di Hari Sumpah Pemuda Ke - 97
Oleh: Edi Syahputra H SPd Tahun 2025 menandai peringatan Hari Sumpah pemuda ke 97, sebagai momentum reflektif bagi dunia Pendidikan Indonesia. Dalam situasi global yang b