• SMA NEGERI 13 BANDA ACEH
  • Unggul dan Berprestasi Berlandaskan Iman dan Taqwa

Andaikan Suara Guru di Dengar Sebelum Kebijakan di Tetapkan

 

                   Oleh : Edi Syahputra H SPd 

Setiap perubahan kebijakan pendidikan selalu membawa harapan baru. Pemerintah berupaya memperbaiki sistem, memperluas akses, serta meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. Namun, dibalik semangat perubahan itu, sering kali muncul satu pertanyaan sederhana namun penting: Sudahkah Suara Guru di Dengar Sebelum Kebijakan di Tetapkan?

Guru adalah ujung tombak pendidikan. Mereka yang berhadapan langsung dengan siswa setiap hari, memahami kondisi nyata di kelas, serta menjadi pelaksana utama dari setiap kebijakan. Namun kenyataannya, banyak guru merasa bahwa suara mereka jarang dijadikan pertimbangan utama dalam proses pengambilan keputusan. Kebijakan sering datang secara tiba-tiba, tanpa penjelasan yang memadai, lalu dituntut untuk segera dilaksanakan.

Akibatnya guru dilapangan sering kebingungan. Mereka harus menyesuaikan diri dengan sistem baru, mengubah cara mengajar, mengisi laporan administrasi tambahan, bahkan harus berhadapan dengan tekanan dari berbagai pihak. Padahal, jika sejak awal guru dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan, banyak hal dapat disesuaikan dengan realitas di sekolah.

 

Kebijakan yang Ideal Berawal dari Suara Lapangan.

Tidak ada yang lebih memahami kondisi pendidikan di daerah selain guru itu sendiri. Mereka tahu bagaimana keterbatasan fasilitas di sekolah, kesulitan siswa dalam memahami materi, hingga tantangan sosial yang memengaruhi semangat belajar.

Oleh karena itu, pelibatan guru dalam setiap tahap kebijakan menjadi sangat penting. Pemerintah dan dinas pendidikan dapat mengadakan forum diskusi, survei terbuka atau kelompok konsultasi yang benar-benar mendengarkan suara para guru. Dengan cara ini, kebijakan yang lahir akan lebih realistis, kontekstual, dan mudah diimplementasikan. 

Contohnya, ketika kurikulum merdeka mulai diperkenalkan, banyak guru yang sebenarnya antusias dengan gagasan merdeka belajar. Namun, sebagian merasa kesulitan karena kurangnya pelatihan, keterbatasan perangkat, dan beban administrasi yang tinggi. 

Seandainya guru -guru diberbagai daerah dilibatkan secara aktif sebelum kebijakan itu diterapkan secara nasional, mungkin proses transisinya akan lebih mulus dan lebih bermakna.

Guru Bukan Sekadar Pelaksana, Tapi Mitra Pembangun Pendidikan.

Sudah saatnya pandangan terhadap guru berubah. Guru bukan sekadar pelaksana kebijakan, tetapi mitra utama dalam membangun pendidikan bangsa. Mereka bukan bawahan, melainkan rekan berpikir yang memahami dinamika dunia belajar dan kehidupan siswa 

Setiap kebijakan yang tidak melibatkan guru sejak awal berisiko gagal dilapangan. Bukan karena gurunya tidak mau berubah, melainkan karena kebijakan itu tidak sesuai dengan kenyataan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, Pemerintah, lembaga pendidikan, dan para pengambil keputusan perlu membuka ruang dialog yang lebih luas.

Ruang partisipasi ini tidak harus formal. Bisa melalui konsultasi daring, forum guru daerah, atau bahkan survei yang benar-benar ditindaklanjuti. Hal terpenting adalah adanya komunikasi dua arah, bukan sekadar sosialisasi satu arah setelah keputusan dibuat.

Membangun Budaya Mendengar.

Mendengarkan guru bukan sekadar formalitas, melainkan tanda penghargaan terhadap profesi yang mulia ini. Budaya mendengar harus tumbuh di setiap tingkatan - dari dinas, kepala sekolah, hingga komunitas belajar.

Jika setiap kebijakan pendidikan diawali dengan mendengar, maka kepercayaan antara guru dan pembuat kebijakan akan meningkat. Guru merasa dihargai, dan pada akhirnya, mereka akan lebih semangat menjalankan kebijakan tersebut dengan sepenuh hati.

Penutup 

Kita semua ingin pendidikan Indonesia maju, modern, dan berkeadilan. Namun, kemajuan tidak akan tercapai jika kebijakan dibuat tanpa memahami kenyataan di lapangan.

Andai suara guru didengar sebelum kebijakan ditetapkan, mungkin banyak masalah pendidikan dapat diantisipasi sejak dini. Kebijakan pun tidak lagi menjadi beban, melainkan jembatan menuju perubahan yang nyata.

Karena sejatinya, pendidikan yang baik berawal dari guru yang didengar, dipercaya, dan diberdayakan.

" Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah".Ki Hadjar Dewantara.

Dan seperti yang dikatakan oleh John Dewey, tokoh pendidikan modern dari Amerika Serikat:

" Jika kita terus mengajarkan anak-anak kita seperti kita mengajar kemarin, kita akan merampas masa depan mereka."

Maka, mari kita mulai perubahan dari hal yang sederhana: dengarkan suara guru sebelum kebijakan ditetapkan.

 

Penulis: Adalah guru SMA Negeri 13 Banda Aceh.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
SISWA SMAN 13 BANDA ACEH MERAIH JUARA DI AJANG EXPO UNIVERSITAS SERAMBI MEKAH

Siswa SMAN 13 Banda Aceh berhasil menoreh prestasi pada ajang kompetisi Expo Universitas Serambi Mekkah. Tim kuliner yang beranggotakan Miftah Huljannah, Ayu Aprillia dan Rauzatul Var

12/02/2026 10:14 - Oleh Humas SMAN 13 - Dilihat 261 kali
SMA Negeri 13 Banda Aceh Gelar Baca Yasin dan Tausiyah Sambut Ramadhan

  Banda Aceh – SMA Negeri 13 Banda Aceh menggelar kegiatan Baca Yasin dan Tausiyah dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan, Jumat (6/2/2026) di Mushalla SMA Negeri 13 Ban

06/02/2026 09:07 - Oleh Edi Syahputra - Dilihat 125 kali
Kabid GTK Disdik Aceh Serahkan SK PLT Kepala SMA Negeri 13 Banda Aceh

  BANDA ACEH — Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Aceh, Junaidi, S.ST., M.Pd., menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pelaksana Tugas (PLT) Kepala S

26/01/2026 19:21 - Oleh Edi Syahputra - Dilihat 362 kali
Guru di Persimpangan Antara Pendidik dan Pengajar

  Oleh Edi Syahputra H, S.Pd Guru SMA di Aceh dan Pemerhati Pendidikan Dalam wacana pendidikan, istilah guru sering kali dipahami secara sederhana sebagai pihak yang mengajar di

22/01/2026 22:08 - Oleh Edi Syahputra - Dilihat 120 kali
INOVASI PENDIDIKAN BERBASIS TEKNOLOGI DAN NASIONALISME

Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang mulai banyak dikembangkan adalah papan tulis digital. Di Indone

20/01/2026 16:39 - Oleh Editor SMAN 13 Banda Aceh - Dilihat 296 kali
Perlindungan Bagi Pendidik Dan Tenaga Kependidikan:Bukan Sekadar Regulasi

  Oleh: Edi Syahputra H, S.Pd Guru SMA dan Pemerhati Pendidikan   Terbitnya Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perlindungan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan p

17/01/2026 01:17 - Oleh Edi Syahputra - Dilihat 337 kali
Guru Tidak Ingin Diistimewakan, Hanya Ingin Diperlakukan Adil

  Oleh: Edi Syahputra H, S.Pd Guru SMA/Pemerhati Pendidikan   Guru sering ditempatkan dalam posisi yang serba tanggung. Di ruang publik, mereka dipuji sebagai ujung tombak

16/01/2026 16:51 - Oleh Edi Syahputra - Dilihat 249 kali
Ciptakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

  Oleh :Edi Syahputra H, S.Pd Sekolah idealnya menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi peserta didik untuk belajar dan berkembang. Namun, berbagai peristiwa perundungan, kekerasa

14/01/2026 19:23 - Oleh Edi Syahputra - Dilihat 492 kali
Guru, Etika Profesi , dan Pendekatan Pembinaan

  Oleh: Edi Syahputra H., S.Pd. Guru SMA di Aceh / Pemerhati Pendidikan   Rencana pelibatan TNI dan Polri dalam pembinaan kedisiplinan guru, khususnya terkait kerapian ber

14/01/2026 17:55 - Oleh Edi Syahputra - Dilihat 298 kali
Ketika Guru Mulai Hilang Jiwa Pendidik

  Oleh: Edi Syahputra H. Guru adalah jantung pendidikan. Dari ruang kelas yang sederhana hingga sekolah modern, denyut pendidikan bergantung pada kehadiran guru yang mengajar den

06/01/2026 22:50 - Oleh Edi Syahputra - Dilihat 264 kali